Detail Berita

Pahami TBC Lebih Dalam: Cara Penularan, Deteksi Dini dan Tips Pencegahannya

02 Jun, 2026 08:21
Pahami TBC Lebih Dalam: Cara Penularan, Deteksi Dini dan Tips Pencegahannya

Dalam laporan Global Tuberculosis Report WHO 2025, pada tahun 2024 menunjukkan situasi TBC yang masih mengkhawatirkan dengan 10,7 juta orang terinfeksi dan 1,23 juta angka kematian. Sebanyak 30 negara menyumbang 87% kasus TBC dunia. India berada di peringkat pertama dengan kontribusi 25%, disusul oleh Indonesia di peringkat kedua (10%), kemudian diikuti oleh Filipina (6,8%), Tiongkok (6,5%), Pakistan (6,3%), Nigeria (4,8%), RD Kongo (3,9%), dan Bangladesh (3,6%).

Berdasarkan pada profil tuberkulosis Indonesia, pada tahun 2024 Indonesia diperkirakan memiliki 1.080.000 kasus baru dengan insidensi mencapai 382 per 100.000 penduduk. Dari jumlah tersebut, sekitar 33.000 kasus terjadi pada orang dengan HIV, dan sekitar 26.000 merupakan kasus tuberkulosis resisten obat. Dari sisi layanan kesehatan, cakupan pengobatan tuberkulosis pada 2024 mencapai 77% dari estimasi kasus, namun beban ekonomi masih besar.

Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 menyatakan bahwa jumlah kasus tertinggi berasal dari provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kasus tuberkulosis terbanyak ditemukan pada kelompok umur 0-14 tahun sebesar 16,2%, diikuti oleh kelompok umur 45-54 tahun sebesar 15,9 % dan 55-64 tahun sebesar 15,4%.

Menurut WHO, tanpa pengobatan, angka kematian akibat tuberkulosis (TB) sangat tinggi, yakni mendekati 50%. Dengan pengobatan yang direkomendasikan, sekitar 90% penderita TB dapat disembuhkan. TBC tetap menjadi penyebab kematian tertinggi dari satu agen infeksius di dunia

 

Apa Itu TBC dan Bagaimana Cara Penularannya?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular serius yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini memiliki karakteristik unik karena mampu bertahan hidup dalam kondisi lingkungan tertentu. Meskipun paling sering menyerang organ paru-paru, bakteri TBC juga dapat menginfeksi organ tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Penyebab utama dari penyakit ini adalah paparan langsung terhadap bakteri tersebut. Mekanisme penularannya terjadi melalui udara (airborne) saat penderita TBC paru batuk, bersin, atau berbicara, sehingga mengeluarkan percikan ludah (droplet) yang mengandung bakteri. Ketika droplet tersebut terhirup oleh orang lain, bakteri masuk ke saluran pernapasan, mencapai paru-paru, lalu berkembang biak hingga memicu infeksi.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang kuat, perkembangan bakteri dapat tertahan sehingga infeksi tidak menimbulkan gejala sama sekali, kondisi ini dikenal sebagai TBC laten. Namun, jika daya tahan tubuh melemah, bakteri akan berkembang menjadi TBC aktif dan menimbulkan manifestasi klinis. Proses penularan ini tidak terjadi secara instan melalui kontak singkat seperti bersalaman atau berbagi alat makan. Penularan biasanya memerlukan interaksi yang cukup lama dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. Faktor lingkungan seperti kelembapan tinggi dan kurangnya cahaya matahari di dalam rumah turut mempercepat akumulasi bakteri di udara.

 

Faktor Risiko yang Meningkatkan Penularan

Beberapa kelompok masyarakat memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk tertular atau mengembangkan penyakit TBC aktif. Faktor risiko tersebut meliputi:

·       Kontak erat dan sering dengan penderita TBC aktif, misalnya tinggal serumah.

·       Masyarakat yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.

·       Petugas medis yang sering merawat penderita TBC.

·       Kelompok usia rentan, yaitu orang lanjut usia (lansia) dan anak-anak.

·       Gaya hidup tidak sehat, seperti perokok, kecanduan alkohol, dan pengguna NAPZA.

·       Kondisi medis tertentu, termasuk penderita penyakit ginjal stadium lanjut dan orang yang mengalami kekurangan gizi.

·       Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, gagal gjal, kanker, diabetes, atau individu yang menjalani transplantasi organ.

·       Orang yang sedang dalam terapi obat imunosupresif dalam jangka panjang, misalnya penderita lupus, psoriasis, rheumatoid arthritis, atau penyakit Crohn.

·       Individu yang belum pernah mendapatkan vaksinasi BCG.

 

Mengenali Gejala TBC pada Orang Dewasa dan Anak

Gejala tuberkulosis sering kali muncul secara perlahan dan menyerupai gangguan pernapasan biasa pada tahap awal, sehingga banyak penderita terlambat menyadari kondisinya. Identifikasi dini sangat krusial untuk mencegah kerusakan jaringan paru yang lebih luas.

Gejala Umum TBC (Orang Dewasa):

·       Batuk berdahak secara terus-menerus selama minimal 2 hingga 3 minggu atau lebih.

·       Batuk yang disertai dengan bercak darah atau dahak berwarna kemerahan.

·       Rasa nyeri di area dada saat bernapas atau ketika sedang batuk.

·       Sesak napas yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

·       Demam yang tidak terlalu tinggi namun berlangsung lama (subfebris).

·       Keringat berlebih pada malam hari meskipun tanpa melakukan aktivitas fisik.

·       Penurunan berat badan secara signifikan disertai hilangnya nafsu makan.

Jika infeksi menyebar ke luar paru (TBC ekstra paru), gejala yang muncul akan bergantung pada organ yang terkena, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri tulang, sakit kepala hebat, atau gangguan saraf.

Gejala TBC pada Anak

Gejala pada anak cenderung lebih sulit dikenali karena sifatnya tidak khas dan sering kali menyerupai penyakit anak lainnya. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

·       Batuk yang berlangsung lama lebih dari 2–3 minggu.

·       Demam yang tidak kunjung turun selama lebih dari 2 minggu.

·       Berat badan menurun atau tidak kunjung naik.

·       Pertumbuhan anak tampak terhambat atau stunting.

·       Anak tampak lemas, mudah lelah, dan kurang aktif bermain.

·       Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati).

·       Gejala klinis tidak membaik meski telah diberikan antibiotik umum dan perbaikan nutrisi.

 

Perbedaan Antara Infeksi TBC Laten dan TBC Aktif

Berdasarkan aktivitas bakteri di dalam tubuh, tuberkulosis dibagi menjadi dua kondisi medis utama:

·       TBC Laten

Bakteri masuk ke dalam tubuh, namun sistem kekebalan tubuh mampu menahan bakteri tersebut agar tidak berkembang biak. Individu dengan TBC laten tidak menunjukkan gejala apa pun, merasa sehat, dan tidak dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Meski demikian, bakteri tetap hidup dalam keadaan tidur (dorman).

·       TBC Aktif

Kondisi ketika sistem imun gagal membendung aktivitas bakteri, sehingga mikroorganisme tersebut mulai berkembang biak dan merusak jaringan tubuh. Pasien akan menunjukkan gejala klinis yang nyata dan dapat menularkan bakteri ke orang di sekitarnya. Jika penderita TBC laten mengalami penurunan daya tahan tubuh—seperti akibat malnutrisi atau penyakit kronis—kondisinya dapat berkembang menjadi TBC aktif.

 

Prosedur Diagnosis TBC oleh Dokter

Diagnosis tuberkulosis ditegakkan melalui serangkaian tahapan medis mendalam, yang diawali dengan wawancara klinis (anamnesis) oleh dokter mengenai:

·       Gejala klinis yang dirasakan beserta perkembangannya.

·       Riwayat kontak erat dengan penderita TBC aktif.

·       Riwayat pernah menderita penyakit TBC sebelumnya.

·       Riwayat penyakit penyerta yang menurunkan imunitas (misalnya diabetes mellitus atau HIV/AIDS).

·       Riwayat penggunaan obat-obatan jangka panjang yang menekan sistem imun (imunosupresif).

·       Kondisi lingkungan tempat tinggal atau area pekerjaan.

·       Gaya hidup sehari-hari, seperti kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol.

Setelah wawancara, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, khususnya pada area dada menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara napas dan mendeteksi kelainan paru. Untuk menetapkan diagnosis secara akurat, pemeriksaan lanjutan berikut akan dilakukan:

·       Pemeriksaan Kultur Dahak: Menguji sampel dahak untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis.

·       Rontgen Dada (Foto Thorax): Visualisasi kondisi paru-paru untuk mendeteksi kelainan seperti bercak, peradangan, atau kerusakan jaringan.

·       Tes Kulit Mantoux (Tuberculin Skin Test): Menyuntikkan cairan tuberkulin di bawah kulit untuk mendeteksi apakah tubuh pernah terpapar bakteri TBC.

·       Tes Darah IGRA (Interferon Gamma Release Assay): Mengukur respons spesifik sistem imun terhadap bakteri TBC melalui sampel darah.

·       Bronkoskopi: Prosedur menggunakan kamera kecil untuk melihat langsung kondisi saluran napas dan jaringan dalam paru-paru.

·       CT Scan: Memberikan gambaran radiologi yang lebih detail mengenai lokasi, luas, dan tingkat kerusakan jaringan paru.

 

Komplikasi Berbahaya Akibat TBC

Jika penyakit TBC diabaikan, terlambat diobati, atau pengobatannya tidak dijalani hingga tuntas, infeksi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

·       Kerusakan jaringan paru-paru secara permanen.

·       Batuk berdarah (hemoptisis) akibat pecahnya pembuluh darah di paru-paru.

·       Penumpukan cairan di selaput pembungkus paru-paru (efusi pleura).

·       Kekurangan gizi atau malnutrisi berat.

·       Penyebaran infeksi ke organ tubuh lain di luar paru (TBC ekstra paru).

·       Kegagalan fungsi sistem pernapasan (gagal napas).

·       Kematian.

 

Pengobatan TBC dan Risiko Resistensi Obat

Pengobatan TBC bertujuan membasmi bakteri dari tubuh, mencegah komplikasi, serta menghentikan rantai penularan. Proses penyembuhan memerlukan komitmen tinggi karena pasien wajib mengonsumsi Obat Antituberkulosis (OAT) secara rutin dalam jangka waktu panjang, biasanya berkisar antara 6 hingga 12 bulan.Pemberian antibiotik kombinasi ini harus dilakukan secara tuntas untuk mematikan seluruh populasi bakteri. Pengobatan tidak boleh dihentikan secara sepihak meskipun pasien sudah merasa lebih sehat sebelum masa terapi berakhir. Penghentian obat secara sembarangan berisiko tinggi memicu Resistensi Obat atau TB-MDR (Multi-Drug Resistant).

TB-MDR adalah kondisi berbahaya ketika bakteri TBC menjadi kebal terhadap antibiotik standar, sehingga proses pengobatan selanjutnya menjadi jauh lebih sulit, memerlukan waktu lebih lama, dan menggunakan obat yang lebih kuat. Selain kepatuhan minum OAT, dukungan nutrisi yang baik sangat diperlukan untuk mempercepat regenerasi jaringan tubuh yang rusak. Pemantauan rutin oleh tenaga medis juga wajib dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan meminimalkan efek samping obat.

 

Langkah-Langkah Pencegahan Penularan TBC

TBC merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui pendekatan perlindungan individu dan pengelolaan lingkungan, yang meliputi:

·           Imunisasi BCG 

Langkah proteksi dini yang sangat penting bagi bayi dan anak-anak. Vaksinasi Bacillus Calmette-Guerin (BCG) ini disarankan untuk diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan. Vaksin ini efektif memberikan perlindungan terhadap bentuk TBC berat pada anak, seperti meningitis tuberkulosis (radang selaput otak).

·           Menghindari Kontak Erat

Membatasi interaksi dekat dengan penderita TBC aktif, terutama yang belum menjalani pengobatan medis secara teratur.

·           Penggunaan Masker

Selalu memakai masker medis saat berada di tempat umum yang padat atau ketika merawat pasien TBC.

·           Etika Batuk dan Bersin

Menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam saat batuk atau bersin untuk menahan paparan droplet.

·           Sirkulasi Udara Rumah

Membuka jendela secara rutin agar ventilasi rumah tetap baik, sehingga sirculasi udara lancar dan bakteri tidak mengendap di dalam ruangan yang lembap.

·           Menjaga Imunitas

Menerapkan pola makan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara teratur.

·           Gaya Hidup Sehat

Menghindari rokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan karena dapat merusak sistem pertahanan pernapasan.

·           Kebersihan Diri

Rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer, serta tidak menyentuh wajah dengan tangan kotor.

·           Skrining Kesehatan

Melakukan pemeriksaan medis secara berkala, terutama bagi kelompok berisiko tinggi atau individu yang memiliki riwayat kontak langsung dengan penderita TBC.

 

Memahami TBC secara utuh adalah langkah awal untuk memutus rantai penularannya di masyarakat. Pengobatan yang tepat dari tenaga medis profesional sangat krusial bagi kesembuhan pasien. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala batuk yang tak kunjung sembuh, jangan tunda lagi dan jangan ragu untuk melakukan konsultasi, pemeriksaan, dan mendapatkan penanganan terbaik langsung di RSUD Nganjuk. Kesehatan paru-paru Anda adalah aset paling berharga yang menentukan kualitas hidup di masa depan.

 

 

REFERENSI :

https://www.drishtiias.com/daily-updates/daily-news-analysis/who-global-tuberculosis-tb-report-2025

https://medquest.co.id/blog/global-tuberculosis-report-who-2025/

https://www.alomedika.com/penyakit/pulmonologi/tuberkulosis-paru/epidemiologi

https://www.alomedika.com/review-laporan-tuberkulosis-global-2025

https://www.alodokter.com/tuberkulosis

https://www.halodoc.com/artikel/kenali-pengertian-penyakit-tbc-dan-pencegahannya?srsltid=AfmBOooY0ZL55hSvRnT_sXEJ1i6fOvqK4R13S6tNnkefvVCS0hTMV7Ip

https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-arti-tuberkulosis-gejala-dan-cara-mengobatinya?srsltid=AfmBOoq78RyHv7JVsPS5dR-YThomeHc0BDtIzuJYWUfO3zr5Hl1U-gqi

 

 

 

 

Bagikan Artikel:
Butuh bantuan? Chat WhatsApp