World Hepatitis Day: Let's Break It Down, Kupas Tuntas Infeksi Hati
Hari Hepatitis Sedunia diperingati setiap tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global akan bahaya peradangan hati. Pada peringatan tahun 2026 ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengusung tema global "Hepatitis: Let's Break It Down" atau “Hepatitis: Mari kita urai hambatannya”. Melalui tema "Let's Break It Down", RSUD Nganjuk mendorong Anda semua untuk memecahkan stigma negatif dan rasa takut. Deteksi dini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan langkah awal untuk menyelamatkan hidup Anda.
Apa saja hambatan dalam eliminasi hepatitis ?
1. Hambatan Informasi
Banyak orang hidup dengan Hepatitis B atau C selama bertahun-tahun tanpa merasakan gejala apa pun pada fase awal. Kurangnya pemahaman membuat masyarakat baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi hati mereka sudah rusak parah.
2. Hambatan Sosial: Stigma dan Diskriminasi
Hingga saat ini, penderita hepatitis sering kali menghadapi stigma negatif di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sosial. Rasa takut akan diskriminasi membuat banyak orang enggan melakukan pemeriksaan medis.
3. Hambatan Aksesibilitas Layanan Kesehatan
Di berbagai belahan dunia, tantangan terbesar terletak pada tidak meratanya akses terhadap vaksinasi, alat diagnosis yang terjangkau, dan obat-obatan antivirus.
Apa Itu Hepatitis?
Penyakit Hepatitis adalah suatu penyakit yang terjadi akibat adanya peradangan pada organ hati atau liver. Hepatitis ada yang bersifat akut adapula yang bersifat kronis. Hepatitis jenis akut dapat terjadi secara tiba-tiba dan dalam waktu yang cenderung singkat. Lain halnya dengan hepatitis kronis, hepatitis ini berkembang secara perlahan dan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Akan tetapi, kedua hepatitis ini sama-sama berbahaya karena mengganggu fungsi tubuh khususnya yang berkaitan dengan proses metabolisme tubuh.
Apa Saja Penyebab dan Bagaimana Cara Penularannya?
Mengenal Jenis Virus Hepatitis Berdasarkan Penyebab dan Cara Penularan :
1. Hepatitis A
Hepatitis A disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A (HAV). Penularan jenis hepatitis ini dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A.
2. Hepatitis B
Jenis hepatitis ini disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan seksual tanpa alat pengaman dan transfusi darah. Pada kasus yang jarang terjadi, ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis B bisa menularkan virus ini ke janinnya.
3. Hepatitis C
Hepatitis C disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C (HCV). Penularan hepatitis C dapat melalui hubungan seksual tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
Sama seperti hepatitis B, virus ini bisa menular dari ibu yang terinfeksi hepatitis C ke janinnya.
4. Hepatitis D
Hepatitis D adalah peradangan hati akibat infeksi virus hepatitis D (HDV). Jenis hepatitis ini jarang terjadi, tetapi bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Seseorang bisa tertular hepatitis D bila memiliki riwayat penyakit hepatitis B. Penularan virus ini bisa melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau transfusi darah.
5. Hepatitis E
Hepatitis E disebabkan oleh infeksi virus hepatitis E (HEV). Hepatitis E ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi virus ini. Oleh karena itu, hepatitis E mudah menular di lingkungan dengan sanitasi yang buruk.
6. Hepatitis akibat kecanduan alkohol
Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan bisa menyebabkan peradangan pada hati dan menimbulkan kerusakan permanen pada sel-sel hati. Hal ini tentu mengganggu fungsi hati. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal hati dan sirosis.
7. Hepatitis akibat obat-obatan tertentu
Jenis hepatitis yang juga disebut toxic hepatitis ini terjadi akibat konsumsi obat-obatan tertentu yang melebihi dosis. Hati bisa mengalami peradangan atau rusak karena bekerja terlalu keras dalam memecah obat-obatan tersebut.
8. Hepatitis akibat penyakit autoimun
Pada hepatitis yang disebabkan oleh penyakit autoimun, sistem imun tubuh secara keliru menyerang sel-sel hati sehingga menimbulkan peradangan dan kerusakan hati.
9. Hepatitis akibat cacing hati
Peradangan hati juga bisa terjadi akibat infeksi cacing hati, yaitu opisthorchiidae dan fasciolidae. Salah satu spesies cacing hati jenis opisthorchiidae yang paling sering menyebabkan infeksi adalah Clonorchis. Seseorang bisa terkena jenis hepatitis ini bila mengonsumsi makanan yang dimasak tidak matang dan terkontaminasi larva cacing hati tersebut.
10. Hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya
Selain yang disebutkan di atas, ada juga jenis yang disebut hepatitis akut misterius. Hepatitis ini tidak diketahui penyebabnya, tetapi terdapat dugaan penyakit ini terkait dengan Adenovirus dan SARS-CoV-2.
Faktor Risiko
Seseorang memiliki risiko lebih tinggi tertular atau mengalami hepatitis jika berada dalam kondisi berikut:
· Tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet, sebelum mengolah makanan atau sebelum makan
· Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi virus hepatitis atau makanan yang tidak diolah hingga matang
· Berbagi barang pribadi, seperti pisau cukur atau gunting kuku
· Berhubungan seksual dengan penderita hepatitis, memiliki lebih dari satu pasangan seksual, atau lelaki seks lelaki (LSL)
· Menderita penyakit HIV
· Bekerja sebagai tenaga kesehatan atau di pusat pengolahan air dan limbah
· Sering menerima transfusi darah, terutama bila darah pendonor tidak melalui pemeriksaan ketat atau alat yang digunakan tidak higienis
· Mengonsumsi beberapa jenis obat yang mengandung paracetamol, atau minum obat herbal tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter
Apa Saja Gejala yang Muncul?
Hepatitis sering dijuluki sebagai Silent Killer karena pada tahap awal (kronis) sering kali tidak menimbulkan gejala sama sekali. Pada penderita hepatitis akibat infeksi virus, gejala akan muncul setelah masa inkubasi, yakni sekitar 2 minggu sampai 6 bulan. Gejala biasanya baru muncul secara jelas saat infeksi bersifat akut atau fungsi hati sudah rusak parah, meliputi:
· Sakit atau rasa tidak nyaman pada perut
· Urine berwarna gelap
· Selera makan menurun
· Demam
· Penyakit kuning (khususnya ditandai warna kekuningan pada kulit dan mata)
· Lesu dan mengantuk
· Mual dan pusing
· Pembengkakan karena penimbunan cairan (edema)
· Nyeri persendian
· Warna feses pucat
· Kulit gatal
Diagnosis Hepatitis
Untuk memastikan diagnosis hepatitis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan:
1. Pemeriksaan Fisik dan Tes Darah
Seseorang dicurigai mengidap hepatitis jika mengalami gejala flu atau gastrointestinal, yang dibarengi dengan gejala penyakit kuning, seperti kulit atau mata menguning, urine gelap, atau tinja pucat). Hasil tes darah dapat mengkonfirmasi jenis virus hepatitis, tingkat keparahan infeksi, apakah infeksi aktif atau tidak, dan apakah pengidap menularkannya pada orang lain. Tes darah juga dapat memastikan apakah virus itu akut, yang berarti jangka pendek (akut), atau kronis (jangka panjang).
2. Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati dilakukan untuk mencari gejala penyakit hati yang disebabkan oleh hepatitis, seperti peningkatan bilirubin dan enzim hati tertentu yang membantu fungsi-fungsi penting dalam tubuh.
3. Tes Antibodi
Ada beberapa tes antibodi IgM dan IgG yang spesifik untuk mengetahui tiga virus hepatitis, seperti hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), dan hepatitis C (HCV). Tes antibodi HCV mencari antibodi terhadap virus hepatitis C dalam darah.
4. Ultrasonografi perut. Tes ini dapat mengevaluasi kelainan pada hati dan perut, juga dapat mendeteksi penumpukan cairan di perut akibat gagal hati.
5. Computerized Axial Tomography (CT). CT scan perut dapat mendeteksi perubahan ukuran dan kepadatan hati, serta dapat memvisualisasikan massa atau tanda-tanda kanker dini.
6. Magnetic Resonance Imaging (MRI). MRI dapat mendeteksi kelainan yang menunjukkan disfungsi hati atau kanker.
7. Biopsi
Biopsi hati adalah bagian dari jaringan yang diambil dari organ dan dievaluasi di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi penyakit.
Bagaimana Pengobatannya?
Secara umum, kasus hepatitis akut (seperti hepatitis A, B, dan E) biasanya tidak memerlukan terapi obat khusus. Penanganan medis pada fase ini lebih difokuskan untuk meredakan keluhan yang dirasakan pasien, seperti mual, muntah, atau nyeri perut (terapi simptomatik).
Jika penyakit berkembang atau dipicu oleh faktor spesifik, dokter akan menentukan metode pengobatan yang disesuaikan dengan penyebabnya:
- Terapi Obat Antivirus:
Bagi pasien yang didiagnosis menderita hepatitis kronis (terutama tipe B atau C), dokter akan meresepkan obat antivirus.
- Terapi Obat Imunosupresan:
Jika peradangan hati terjadi akibat penyakit autoimun, maka diperlukan obat penekan imun (imunosupresan).
- Terapi Obat Interferon:
Metode ini bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus sekaligus meminimalkan risiko kerusakan hati jangka panjang. Obat interferon ini biasanya diberikan oleh tim medis melalui prosedur suntikan berkala.
- Terapi Obat Cacing Hati:
Apabila hasil diagnosis menunjukkan bahwa infeksi hati dipicu oleh parasit atau cacing hati, maka jenis obat yang diberikan akan disesuaikan dengan spesies cacingnya.
- Prosedur Transplantasi Hati:
Jika kondisi peradangan sudah masuk ke fase gagal hati atau kerusakan organ telah sangat parah (seperti sirosis stadium akhir), prosedur transplantasi (cangkok) hati menjadi jalan medis terakhir. Melalui pembedahan ini, jaringan organ hati pasien yang telah rusak akan diangkat dan digantikan dengan jaringan organ hati yang sehat dari seorang pendonor.
Cara Pencegahannya
Terdapat berbagai langkah efektif yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan risiko penularan hepatitis. Mengingat setiap jenis virus memiliki jalur transmisi yang berbeda, strategi pencegahannya pun disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis hepatitis berikut:
- Pemberian Vaksinasi Secara Lengkap
Vaksinasi terbukti sangat efektif untuk mencegah infeksi Hepatitis A dan B.
· Membatasi Konsumsi Minuman Beralkohol
Mengurangi atau menghentikan kebiasaan minum alkohol merupakan cara terbaik untuk melindungi sel-sel hati dari peradangan non-infeksi (Hepatitis Alkoholik) serta menjaga fungsi hati tetap prima.
- Menjaga Kualitas dan Kebersihan Sumber Air
Pastikan air yang digunakan untuk minum, memasak, dan kebutuhan sehari-hari berasal dari sumber yang bersih, terbebas dari pencemaran bakteri maupun sisa kotoran.
· Higienitas Pengolahan Bahan Makanan
Selalu cuci bersih sayuran, buah-buahan, serta bahan makanan laut—terutama kerang dan tiram di bawah air mengalir sebelum diolah atau dikonsumsi demi memutus rantai penyebaran virus Hepatitis A dan E.
· Tidak Saling Berbagi Peralatan Pribadi
Hindari penggunaan bersama untuk barang-barang yang berisiko memicu luka kecil atau kontak darah, seperti sikat gigi, pisau cukur, gunting kuku, maupun jarum suntik.
· Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
Hindari menyentuh atau membersihkan ceceran darah orang lain secara langsung tanpa menggunakan sarung tangan pelindung, guna mencegah paparan virus hepatitis tipe blood-borne (B dan C).
· Menerapkan Perilaku Seksual yang Aman
Menekan risiko penularan melalui cairan tubuh dengan cara menggunakan alat kontrasepsi (kondom) saat berhubungan serta berkomitmen untuk saling setia pada satu pasangan (tidak berganti-ganti pasangan).
Jangan tunggu sampai gejala menguning muncul. Jika Anda atau keluarga memerlukan informasi lebih lanjut, pemeriksaan laboratorium, skrining, atau konsultasi dokter spesialis penyakit dalam, Layanan Poliklinik RSUD Nganjuk siap melayani dengan sepenuh hati.